Minggu, 14 Juli 2013

Perhatian



Suatu hari, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun pergi ke sebuah toko es krim, duduk di sebuah meja dan bertanya kepada pelayan, “Berapa harga es krim horen?” Ia menjawab,”tujuh puluh lima sen.” Anak itu mulai menghitung uang di tangannya. Kemudian ia bertanya berapa harga es krim mangkuk kecil. Pelayan itu menjawab dengan tidak sabar,”enam puluh lima sen.” Anak itu berkata,”Saya akan membeli es krim mangkuk kecil.” Ia memakan es krimnya, membayarnya, kemudian pulang. Ketika pelayan itu kembali untuk membereskan meja, ia terkesan. Di bawah mangkuk ada sepuluh uang logam satu sen sebagai uang tip. Anak kecil itu mempunyai perhatian kepada pelayan sebelum ia memesan es krimnya. Ia menunjukkan kepekaan dan kepedulian. Ia berpikir tentang orang lain sebelum memikirkan dirinya sendirinya.



Jika kita semua berpikir seperti anak kecil itu, maka kita akan memiliki lingkungan yang indah untuk hidup. Tunjukkan perhatian, kesopanan, dan kehalusan budi. Pikiran yang penuh perhatian menunjukkan sikap peduli.
 

Selasa, 09 Juli 2013

Who Would like This Twenty-Dollar Bill?



Cassan said Amer tells the story of a lecture who began a seminar by holding up a twenty-dollar bill and asking: “Who would like this twenty-dollar bill?”

Several hand went up, but the lecturer said: ‘Before I give it to you, I have to do something.”
He screwed it up into a ball and said: “Who still wants this bill?”
The hands went up again.
“And what if I do this to it?”

He threw the crumpled bill at the wall, dropped it into the floor, insulted it, trampled on it, and once more showed them the bill – now all creased and dirty. He repeated the question, and the hands stayed up.

“Never forget this scene,“ he said. “It doesn’t matter what I do to this money. It is still a twenty-dollar bill. So often in our lives, we are crumpled, trampled, ill-treated, insulted, and yet, despite all that, we are still worth the same.”



source: Like The Flowing River, Paulo Coelho

Selasa, 02 Juli 2013

Mereka yang Mengenakan Topeng



Seorang eksekutif muda dengan harga diri rendah telah dipromosikan. Namun ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan kantor dan posisi barunya. Ketika terdengar ketukan di pintunya, maka ia menunjukkan betapa penting dan sibuknya ia, ia mengangkat telepon dan mempersilakan tamunya masuk. Tamu itu tetap mengangguk, sang eksekutif tetap berbicara di telepon, sambil mengangguk-angguk, ia berucap, “Tidak masalah, saya dapt mengatasinya.” Setelah bebrapa menit ia meletakkan telepon dan bertanya pada tamunya apa yang dapat ia lakukan untuknya. Orang itu menjawab, “Pak, saya kemari untuk membetulkan telepon Anda yang rusak.”

Apa makna cerita ini?

Mengapa harus berpura-pura? Apa yang iingin kita buktikan? Apa yang ingin kita raih? Mengapa kita harus berbohong? Mengapa kita mengambangkan perasaan tentang pentingnya suatu kesalahan? Semua ini karena perasaan tidak aman dan harga diri yang rendah.

Harga Diri adalah Konsep Diri



Ada sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam labu kuning di kebunnya. Tanpa alasan ia meletakkan biji labu yang kemudian tumbuh sebagai tanaman rambat, di dalam wadah kaca.

Ketika panen, ia melihat bahwa labu telah tumbuh, namun hanya sebatas wadah kaca tersebut. Sebagaimana labu tidak dapat berkembang menebus dinding wadah kaca yang membatasinya, demikian pula manusia tidak dapat berprestasi melampaui batas-batas konsep diri mereka, apapun bentuknya.

Senin, 01 Juli 2013

Motivasi Internal, Semangat yang mengagumkan...



Motivasi internal berasal dari dalam diri, seperti kebanggan, perasaan berhasil, tanggung jawab dan keyakinan.

Ada seorang anak laki-laki yang selalu latihan teratur, tetapi selalu menjadi pemain cadangan dan tidak pernah masuk tim inti kesebelasan sepak bola. Saat ia berlatih, ayahnya selalu duduk di sudut lapangan menunggunya.

Turnamen sepak bola sudah dimulai dan selama empat hari, dia tidak pernah muncul pada latihan atau pertandingan perempat final ataupun semifinal. Tiba-tiba ia datang pada pertandingan final, menghadap pelatih dan berkata,”Pak Anda selalu menempatkan saya di bangku cadangan dan tidak pernah memberi kesempatan kepada saya untuk bermain pada pertandingan final. Hari ini, ijinkan saya bermain. “Pelatih berkata,”Nak saya minta maaf, saya tidak bisa memasangmu. Ada banyak pemain lain yang lebih baik, lagipula ini adalah pertandingan final, taruhannya adalah reputasi sekolah dan saya tidak mau mengambil resiko. “Anak itu memohon,”Pak saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda. Saya memohon, ijinkan saya bermain. “Pelatih yang tidak pernah melihat anak memohon seperti itu sebelumnya, berkata, “Baiklah nak, kamu boleh bermain. Tetapi ingat, saya sudah melawan penilaian terbaik saya dan reputasi sekolah adalah taruhannya. Jangan mengecewakan saya.”

Pertandingan final dimulai dan anak itu bermain dengan penuh semangat. Setiap kali ia mendapat bola, ia menciptakan goal. Tak perlu disebutkan lagi, ia menjadi pemain terbaik dan bintang dalam pertandingan itu. Timnya menang secara mengagumkan.



Ketika pertandingan usai, pelatih mendatanginya dan berkata, “Nak betapa saya melakukan kesalahan besar dalam hidup saya. Saya tidak pernah melihatmu bermain seperti itu sebelumnya. Apa yang terjadi? Bagaimana kamu dapat bermain dengan sangat baik?” Anak itu menjawab,”Pak, ayah saya menonton saya hari ini.”Pelatih memndang sekeliling dan melihat tempat dimana ayah dari anak itu biasa duduk. Tidak ada seorangpun disana. Ia berkata,”Nak, ayahmu biasanya duduk disana jika kamu berlatih, tetapi hari ini saya tidak melihatnya,”Anak itu menjawab,”Pak, ada sesuatu yang tidak pernah saya beritahukan kepada Anda. Ayah saya buta. Baru empat hari lalu ia meniggal. Hari ini adalah hari pertama ia menonton saya bermain dari atas.”